Loonie Melemah Karena Turunnya Harga Minyak, dan Data Tenaga Kerja Kanada

Dollar Reli Setelah Data Ketenagakerjaan AS

Dolar naik tajam pada hari Jumat, mencatatkan penguatan terbesar dalam tujuh minggu, didorong oleh solidnya data ketengakerjaan AS bulan Juli yang tumbuh melebihi ekspektasi, mendorong kenaikann imbal hasil obligasi AS karena pandangan bahwa The Fed bisa memperketat kebijakan moneternya lebih cepat dari perkiraan. Non-farm payrolls (NFP) AS tumbuh 943 ribu pada Juli, melebihi perkiraan ekonom 870 ribu yang disurvei oleh Reuters. Data tersebut menghidupkan kembali momentum dolar, yang sebelumnya didukung juga oleh pernyataan dari Wakil Ketua The Fed Richard Clarida yang menunjukkan bahwa kondisi untuk menaikkan suku bunga mungkin segera dipenuhi pada akhir 2022. Para Pejabat The Fed mengatakan bahwa pertumbuhan lapangan kerja sangat penting ketika mereka mulai menarik kembali stimulus ekstra ekonomi yang mereka berikan selama pandemi. Indeks dolar AS menguat 0,6% menjadi 92,776.

Loonie Melemah Karena Turunnya Harag Minyak, Data Tenaga Kerja Kanada

Loonie melemah atas greenback hari Jumat karena turunnya harga minyak dan data ketenagakerjaan  Kanada yang dirils lebih rendah dari perkiraan. Kanada menambahkan 94.000 pekerjaan pada bulan Juli, jauh di bawah perkiraan 148,5 ribu. Rilisan data tersebut kontras dengan data ketenagakerjaan AS yang solid, membuat investor lebih terkesan dengan data AS, membuat loonie jatuh 0,7% selama sepekan.

Emas Anjlok Setelah Data NFP AS

Emas anjlok ke level terendah dalam lebih dari sebulan pada hari Jumat setelah data ketenagakerjaan yang kuat mendorong ekspektasi The Fed dapat mulai mengurangi stimulus ekonominya lebih cepat dari perkiraan. Spot emas turun 2,2% menjadi $1.763,96 per ons, setelah menyentuh level terendah sejak 30 Juni di $1.757.70. Data NFP AS melebihi ekspektasi dengan penambahan 943.000 pekerjaan bulan lalu.

Minyak Melemah Karena Kekhawatiran Pembatasan Akan Melemahkan Permintaan

Harga minyak melemah pada hari Jumat di tengah kekhawatiran bahwa pembatasan perjalanan untuk mengekang penyebaran Covid-19 varian Delta yang akan menggagalkan pemulihan global dalam permintaan energi. Minyak Brent turun 0,8% ke level US$ 70,70 , sementara WTI AS melemah 1,2% ke US$ 68,28. Pekan lalu Brent turun lebih dari 6%, kerugian mingguan terbesar dalam empat bulan. WTI jatuh hampir 7%, penurunan mingguan terbesar dalam sembilan bulan. Lonjakan Covid-19 kembali meningkat di AS. Presiden Joe Biden mengatakan, kasus Covid-19 di AS telah naik ke level tertinggi dalam enam bulan. Dia menyebut, bahwa varian Delta sudah mengambil korban yang tidak perlu di negara itu. Di Jepang, pemerintah siap untuk memperluas pembatasan darurat ke lebih banyak wilayah. Begitu juga China, konsumen minyak terbesar Dunia, memberlakukan pembatasan di beberapa kota dan membatalkan sejumlah penerbangan.

Wall Street Menguat Pekan Lalu Berkat Solidnya Laporan Keuangan & Data NFP AS

Bursa saham Wall Street menutup perdagangannya minggu lalu dengan menguat, di mana S&P 500 naik 0,94%, Dow Jones bertambah 0,78% dan Nasdaq naik 1,11% dalam sepekan. Penguatan didorong oleh solidnya laporan keuangan perusahaan, serta data NFP bulan Juli yang tumbuh 943 ribu, di atas perkiraan 870 ribu. Data tersebut mengangkat indeks S&P 500 dan Dow Jones di Jumat, meski Nasdaq terkoreksi.

Fokus MInggu ini: Inflasi AS & Jerman, ZEW, Pidato Raphael Bostic

Setelah data ketenagakerjaan AS minggu lalu dirilis melebihi ekspektasi, Fokus pasar beralih ke data inflasi,  di mana minggu ini akan dirilis CPI dan PPI AS. Pelaku pasar akan terus mencermati kedua data tersebut, karena akan menjadi pertimbangan bagi The Fed untuk mengetatkan kebijakannya. Selain data inflasi AS, fokus lainnya adalah ZEW dan inflasi Jerman. Kemudian ada pidato dari pejabat The Fed Raphael Bostic.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*