Marak Sentimen Negatif, Wall Street Merosot

Dolar AS Catatkan Penguatan Mingguan Terbesar Sejak Pertengahan Agustus

Dolar AS meraih level tertinggi tiga minggu pada hari Jumat, didukung oleh data penjualan ritel AS yang lebih baik dari perkiraan yang dirilis pada hari Kamis, yang mendukung ekspektasi untuk tapering the Fed sebelum akhir tahun. Indeks dolar sempat naik ke 93.220, tertinggi sejak minggu ketiga Agustus, sebelum ditutup naik 0,4% pada 93.207. Selama sepekan, indeks dolar naik 0,6%, persentase kenaikan mingguan terbesar sejak pertengahan Agustus. The Fed akan menggelar rapatnya minggu ini dan diperkirakan akan membuka diskusi tentang pengurangan pembelian obligasi bulanan, sembari mengaitkan setiap perubahan aktual dengan pertumbuhan pekerjaan AS pada bulan September dan seterusnya. Spekulasi tentang Fed tapering tahun ini meningkat setelah penjualan ritel AS Agustus tumbuh 0,7% di, melawan ekspektasi untuk penurunan 0,8%. Survei sentimen bisnis juga menunjukkan peningkatan tajam di bulan September.

Melemah Atas Dollar AS, Pound Ungguli Euro Karena Prospek Kenaikan Suku Bunga BoE Sterling jatuh ke level terendah baru atas dolar AS, namun menguat atas euro pada hari Jumat karena ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of England (BoE). Penjualan ritel Inggris secara tak terduga turun bulan lalu, namun tetap di atas level pra-pandemi. Beberapa analis memperkirakan BoE akan menaikkan suku bunga pada pertengahan 2022, setelah inflasi dan data ekonomi Inggris yang solid baru-baru ini.

Emas Melemah Setelah Data Retail Sales AS Mengangkat Dolar

Emas naik tipis hari Jumat setelah aksi jual di sesi sebelumnya karena penguatan dolar, membuat harga di jalur penurunan mingguan kedua, dengan investor fokus pada strategi tapering Federal Reserve AS. Data retail sales AS di bulan Agustus yang naik di atas perkiraan, menghidupkan kembali kekhawatiran tapering Fed, mendorong kenaikan dolar dan memicu penurunan emas hampir 3% pada hari Kamis.

Melemah di Jumat, Minyak Masih Catatkan Penguatan Lebih dari 3% Selama Sepekan

Meski melemah di hari Jumat, harga minyak masih mencatatatkan penguatan dalam sepekan, setelah banyak perusahaan energi di Teluk Meksiko AS yang belum memulai kembali produksinya setelah dua badai yang berturut-turut melanda kawasan itu. Harga minyak Brent turun 33 sen ke US$ 75,34 per barel, sementara WTI AS melemah 64 sen menjadi US$ 71,97 per barel. Namun selama sepekan, minyak Brent melonjak 3,3% dan WTI menguat 3,2%. Dukungan harga kedua jenis minyak tersebut didapat dari ketatnya pasokan karena pemadaman produksi di kawasan Teluk Meksiko setelah Badai Ida dan Badai Nicholas. Ekspor minyak mentah Gulf Coast kembali mengalir setelah badai Nicholas dan Badai Ida menghambat produksi 26 juta barel di kawasan lepas pantai. Reuters melaporkan, restart berlanjut dengan tinggal 28% dari produksi minyak mentah Teluk Meksiko AS yang ofline.

Marak Sentimen Negatif, Wall Street Merosot

Wall Street merosot tajam pada hari Jumat, dipicu oleh kekhawatiran kenaikan pajak perusahaan, meluasnya varian Delta Covid-19, dan kemungkinan terjadinya pergeseran kebijakan The Fed terkait timeline tapering. Nasdaq turun paling dalam, terbebani kenaikan imbal hasil treasury AS yang menekan pertumbuhan saham- saham di pasar. Indeks Dow Jones turun 0,48%, S&P 500 melemah 0,91%, dan Nasdaq anjlok 0,91%.

Fokus Minggu ini: Bank Central Meeting (The Fed, BoE & BoJ), PMI Global

Minggu ini akan menjadi minggu yang istimewa karena investor akan mencermati pertemuan bank sentral di seluruh dunia, termasuk The Fed, BoE dan BoJ, dengan pejabat The Fed diperkirakan akan memberikan pembaruan tentang waktu pengurangan pembelian aset bank (tapering). Fokus lainnya adalah data PMI Global, yang akan memberikan gambaran tentang keadaan pemulihan ekonomi global.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*