Meski Jumat Menguat, Dollar Masih Melemah

Meski Jumat Menguat, Dollar Masih Melemah Selama Sepekan
Optimisme stimulus fiskal AS menyusul pembicaraan antara ketua DPR AS Nancy Pelosi dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin, telah mengangkat asset berisiko dan mengurangi pamor dollar sebagai safe haven di awal-awal minggu. Namun, di akhir minggu, dollar kembali mendapatkan kembali peran safe haven di tengah ketidakpastian politik di AS setelah debat presiden perdana Capres AS antara Donald Trump dan Joe Biden. Ketidakpastian politik AS semakin bertambah ketika berita yang menyebutkan Trump terinfeksi virus Covid-19. Terakhir, data non-farm payroll yang lebih rendah dari perkiraan menunjukkan sektor tenaga kerja AS masih lemah, memberikan kekhawatiran mengenai pemulihan ekonomi. Meski menguat di hari Jumat, indeks dollar masih mencatatkan pelemahan sebesar 0,8% dalam sepekan pada level 93.88.

Loonie Diperkirakan Menguat 2% Tahun Ini
Dollar Kanada (loonie) diperkirakan akan menguat sekitar 2% di tahun ini menurut jajak pendapat Reuters. Penguatan didorong oleh ekspektasi pemulihan ekonomi global dari virus corona akan meningkatkan prospek harga komoditas. Loonie diperkirakan menguat menjadi 1,32 per dollar AS dalam tiga bulan dari posisi 1.3280 di hari Kamis, menurut 40 analis yang di survei Reuters.
Meski Jumat Turun, Emas Catatkan Penguatan Lebih dari 2% Pekan Lalu
Harga emas Berjangka AS menguat 2,2% pekan lalu pada level $1,904.00. Sementara emas spot naik 2,1% pada level $1,898.30. Sebelum penurunan Jumat, emas kembali naik ke kunci $1.900 pada hari Kamis ketika Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengatakan dia telah berdiskusi dengan Menteri Keuangan Steven Mnuchin untuk RUU bantuan virus corona baru meskipun tetap ada “jarak” di antara mereka dalam negosiasi.
.
Marak Sentimen Negatif, Harga Minyak Anjlok Pekan Lalu
Harga minyak menntah WTI, yang diperdagangkan di AS anjlok 8% minggu lalu dan telah jatuh dalam dua minggu berturut-turut. Penurunan tersebut sekaligus mengikis kenaikan 10% yang didapat dua mingggu lalu. Beberapa sentimen ynag menjadi pemberat bagi harga minyak antara lain melonjaknya jumlah infeksi kasus virus corona di AS dan Eropa, rilis data ketenagakerjaan AS yang suram di bulan September. Kemudian ancaman meningkatnya produksi minyak mentah dari Libya, semakin menekan harga. Data Jumat lalu menunjukkan non-farm payroll AS hanya tumbuh 661.000 di bulan September, atau kurang dari setengah dari 1,5 juta pada Agustus. Sementara di Libya, produksi minyak naik menjadi sekitar 300.000 barel per hari (bph) setelah dimulainya kembali ladang minyak lain di negara itu. Kondisi ini memberikan pekerjaan rumah tersendiri bagi OPEC yang mencoba menyeimbangkan kembali pasar sementara permintaan masih lemah. Sementara itu, Minyak Brent turun 6,3% selama sepekan di kisaran 39.20.

Wall Street Jatuh Setelah Trump Terpapar Covid-19
Tiga indeks utama Wall Street kembali tertekan di penghujung perdagangan minggu lalu setelah kabar yang menyebutkan presiden AS Donald Trump terpapar virus corona. Berita tersebut semakin menambah ketidakpastian seputar pemilu yang akan datang dan membuat investor pada suasana risk off. Indeks Dow Jones turun 0,48%, indeks S&P 500 melemah 0,96% dan Nasdaq anjlok 2,22%.

Fokus Minggu Ini: Trump, Powell, Lagare, Bailey, FOMC Minutes & ISM Non-Manufacturing Ada beberapa event penting minggu ini, diantaranya perkembangan mengenai kondisi presiden Trump setelah terinfeski virus corona. Selain itu, investor juga masih akan menantikan kepastian stimulus fiskal AS. Sementara data ekonomi yang layak dicermati, diantaranya ISM non-manufacturing. Ada juga RBA meeting dan FOMC minutes, serta pidato para pejabat bank sentral, diantaranya Lagarde, Powell dan Bailey.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*