Minggu ini tiga bank besar meeting, BoJ, FOMC dan ECB

Dollar bergerak flat Jumat lalu, namun tetap mencatatkan penguatan dua minggu berturut-turut berkat kenaikannya terhadap euro dan sterling. Indeks dollar flat pada kisaran 100,41, setelah sempat menyentuh level tertinggi 18 hari di level 100,98. Data Jumat lalu menunjukkan durable goods orders AS turun 14,4 di bulan Maret, penurunan terbesar sejak 2014. Sementara itu, kekhawatiran Brexit telah membebani pergerakan sterling. Pembicaraan perdagangan antara Inggris dan Uni Eropa gagal membuahkan hasil. Pasalnya, Inggris tetap bersikukuh tidak memperpanjang masa transisi post-Brexit, meski saat ini tengah menghadapi krisis Covid-19.

Meski menguat Jumat lalu, euro masih melemah sekitar 0,7% atas dollar karena harapan mengenai bantuan dana terhadap negara-negara yang terdampak Covid-19. Namun, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan perbedaan terus berlanjut di antara pemerintah Uni Eropa mengenai apakah dana tersebut harus mentransfer uang hibah, atau hanya memberikan pinjaman.

Harga emas kokoh bertahan di atas $1700 minggu lalu, bersamaan dengan naiknya bursa Wall Street. Meski begitu, penguatan dollar telah membatasi kenaikannya. Harga emas spot naik sekitar 2,7% minggu lalu, berakhir di kisaran $1728,86, sementara harga emas berjangka naik 2,3% pada kisaran $1745,65. Meski Wall Street menguat berkat optimisnya menjelang dibukanya kembali bisnis di AS, permintaan safe haven emas masih tetap tinggi. Sentimen emas juga didukung oleh kebijakan stimulus yang dijalankan pemerintah dunia.

Meski menguat dalam tiga sesi perdagangan terakhirnya, secara mingguan harga minyak masih mencatakan penurunan. Minyak jenis WTI turun 7% dan berakhir di kisaran $16,94 Jumat lalu, sementara minyak Brent turun 24% dan berakhir di kisaran $21,44. Minyak berjangka AS untuk kontrak bulan Mei sempat jatuh ke teritori negatif menjadi minus 40 karena trader melikuidasi posisi mereka sebelum berakhirnya masa kontrak untuk terhindar dari biaya pengiriman fisik. Isu oversuply masih tetap membayangi kekhawatiran dengan lemahnya permintaan akibat dampak virus corona yang memaksa banyak negara dunia menjalankan kebijakan lockdown untuk mengurangi penyebaran, yang membuat terganggunya perjalanan. Harga minyak akhirnya rebound dalam tiga sesi terakhirnya menyusul meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Presiden AS Donand Trump menginstruksikan kepada angkatan lautnya untuk menembak jatuh kapal Iran yang berusaha mengganggu. Harga juga naik setelah DPR AS meloloskan RUU senilai $500 miliar. Selain itu, upaya OPEC untuk memangkas produksi turut mendukung sentimen.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*