Minyak Koreksi Karena Perkiraan Cuaca di AS, Turunnya Harga Batu Bara China

Dolar Naik Berkat Solidnya Data Ekonomi AS, Kenaikan Imbal Hasil Obligasi

Dolar AS naik pada hari Kamis atas mata uang utama lainnya, menghapus kerugian sebelumnya, didorong oleh solidnya data-data ekonomi AS, serta kenaikan imbal hasil obligasi AS. Data kemarin menunjukkan bahwa jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran turun ke level terendah 19 bulan pekan lalu. Data lainnya, penjualan rumah AS juga melonjak ke level tertinggi delapan bulan pada bulan September. Indeks dolar naik 0,17% menjadi 93,76, setelah sebelumnya jatuh ke 93,49. Sementara itu, Gubernur Fed Christopher Waller mengatakan pada hari Kamis bahwa bank sentral AS harus mengurangi neracanya sebesar $8 triliun selama beberapa tahun ke depan.  Kenaikan dolar  juga didukung oleh kenaikan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun yang naik menjadi 1,683%, tertinggi sejak 13 Mei.

Bostic: The Fed Dapat Menaikkan Suku Bunga Pada Q3 2022

Gangguan rantai pasokan dan kendala pasar tenaga kerja, ditambah  dengan permintaan  konsumen  yang  kuat, dapat menjaga inflasi tetap tinggi hingga 2022, dan bank sentral AS mungkin perlu menaikkan suku bunga pada paruh kedua tahun ini, menurut Presiden Federal Reserve Bank Atlanta Raphael Bostic, hari Kamis. “Saya berpikir akhir ketiga, mungkin awal kuartal keempat untuk 2022,” kata Bostic di CNBC, ketika ditanya kapan dia memperkirakan kenaikan suku bunga.

Emas Melemah Karena Kenaikan Yield Obligasi AS

Harga emas melemah pada hari Kamis, tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi AS, mengimbangi kekhawatiran kenaikan inflasi dan sektor properti China yang bermasalah. Spot emas turun 0,1% menjadi $1.780,61 per ons. Imbal hasil Treasury 10-tahun AS naik ke puncak lima bulan. Emas gagal terangkat meski

ada potensi gagal bayar Evergrande dan kekhawatiran inflasi.

Minyak Koreksi Karena Perkiraan Cuaca di AS, Turunnya Harga Batu Bara China

Harga minyak jatuh pada hari Kamis karena perkiraan musim dingin AS yang hangat mengerem reli yang mendorong harga ke level tertinggi tiga tahun di atas $86 per barel di awal sesi  karena pasokan yang ketat  dan krisis energi global. Cuaca musim dingin di sebagian besar AS diperkirakan lebih hangat dari rata-rata, menurut National Oceanic and Atmospheric Administration yang dirilis Kamis pagi. Minyak Brent turun $1,21 menjadi $ 84,61 dan WTI AS turun 92 sen menjadi $ 82,50. Minyak juga mendapat tekanan dari penurunan harga batu bara dan gas alam. Di China, batu bara turun 11%, memperpanjang kerugian minggu ini sejak Beijing mengisyaratkan akan melakukan intervensi untuk mendinginkan pasar. Namun, beberapa analis melihat reli minyak masih berlanjut karena OPEC+ kemungkinan akan tetap pada rencananya untuk peningkatan produksi bertahap sementara permintaan diperkirakan akan mencapai tingkat pra-pandemi.

Wall Street Variatif, Dow Turun

Wall Street bergerak variatif hari Kamis, dengan S&P 500 dan Nasdaq naik, sementara Dow Jones melemah. Indeks S&P 500 naik ke rekor penutupan tertinggi dan naik tujuh sesi berturut-turut, sementara Nasdaq menguat berkat kenaikan saham-saham seperti Tesla Inc dan MicrosoG Corp. Indeks Dow Jones turun 0,02% ke 35.603,08, S&P 500 naik 0,30% ke 4.549,78 dan Nasdaq Composite naik 0,62% ke 15.215,70.

Fokus Hari ini: PMI Global & Pidato Powell

Hari ini akan dirilis data PMI global, baik dari sektor manufaktur maupun jasa. Data tersebut akan menunjukkan optimisme pelaku bisnis pada sektor manufaktur maupun jasa, sekaligus akan mengukur perekonomian suatu negara. Angka PMI yang optimis mungkin bisa mengangkat sentimen risk-on, dan mengurangi pamor safe haven dolar. Event penting lainnya adalah pidato ketua The Fed Jerome Powell.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*