Minyak Melemah Karena Kenaikan Dolar AS & Kekhawatiran Permintaan

Dolar AS Naik ke Level 20 Tahun Atas Yen Karena Komentar Hawkish The Fed

Dolar AS naik ke level tertinggi dua dekade atas yen dan mendekati level tertinggi dua tahun terhadap euro pada Jumat, setelah serangkaian komentar hawkish dari pejabat The Fed yang memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan AS yang lebih agresif. Greenback naik 0,43% pada 126,40 yen setelah sempat mencapai 126,56 untuk pertama kalinya sejak Mei 2002. Sementara euro turun 0,14%, setelah sempat jatuh ke level terendah sejak April 2020 di $1,0785. Presiden Fed New York John Williams mengatakan pada hari Kamis bahwa kenaikan suku bunga setengah poin bulan depan adalah “pilihan yang sangat masuk akal,”. Sebaliknya, Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan dalam waktu yang hampir bersamaan bahwa tidak ada kerangka waktu yang jelas kapan suku bunga ECB akan mulai naik, menambahkan bahwa itu bisa berminggu-minggu atau bahkan beberapa bulan setelah ECB menghentikan skema stimulusnya di kuartal 3.

Moody’s: Rusia Bisa Default

Moody’s mengatakan Rusia mungkin bisa default karena mencoba membayar obligasi dolarnya dalam rubel, yang akan menjadi salah satu konsekuensi paling keras saat ini dari pengecualian Moskow dari sistem keuangan Barat sejak invasi Rusia ke Ukraina. Jika Moskow dinyatakan gagal bayar, itu akan menandai kegagalan besar pertama Rusia pada obligasi asing sejak tahun-tahun setelah revolusi Bolshevik 1917.

Turun di Kamis, Emas Bukukan Penguatan Mingguan Berkat Safe Haven

Harga emas melemah pada hari Kamis karena penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi AS di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang agresif, namun permintaan safe-haven yang dipicu oleh krisis Ukraina dan inflasi yang meningkat membuat emas tetap di jalur untuk kenaikan mingguan. Spot emas turun 0,3% menjadi $1,971,04 per ons, sementara emas berjangka AS turun 0,5% pada $1,974.

Minyak Melemah Karena Kenaikan Dolar AS & Kekhawatiran Permintaan

Sempat turun di sesi awal, harga minyak akhirnya menguat pada hari Kamis karena aksi short covering menjelang long weekend. Minyak juga naik di tengah berita bahwa Uni Eropa mungkin secara bertahap akan melarang impor minyak Rusia. Brent berjangka ditutup naik 2,68%, pada $ 111,70 per barel, sementara WTI AS menguat 2,59% pada $ 106,95 per barel. Kedua kontrak mencatat kenaikan mingguan pertama mereka di bulan April. The New York Times melaporkan bahwa Uni Eropa sedang bergerak ke arah mengadopsi larangan bertahap minyak Rusia, untuk memberi Jerman dan negara-negara lain untuk mengatur pemasok alternatif. Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) telah memperingatkan pada hari Rabu bahwa sekitar 3 juta barel per hari minyak Rusia dapat ditutup mulai Mei dan seterusnya karena sanksi atau pembeli secara sukarela menghindari kargo Rusia.

Wall Street Melemah, Dipicu Penurunan Saham Pertumbuhan

Wall Street melemah pada akhir perdagangan Kamis dipicu kenaikan yield obligasi AS dan investor mencermati data ekonomi dan rilis pendapatan emiten yang beragam. Ketiga indeks saham utama AS mencatat penurunan mingguan menjelang libur Jumat Agung. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,33% ke 34.451,23, S&P 500 turun 1,21% ke 4.392,59 dan Nasdaq Composite jatuh 2,14% ke 13.351,08.

Fokus Minggu Ini : US Earning, PMI Global, PDB AS & China, Krisis Ukraina

Musim pendapatan di AS akan memasuki fase sibuk dengan beberapa perusahaan keuangan dan perusahaan besar lainnya akan melaporkan hasil earning-nya. Minggu ini juga akan dirilis data-data penting ekonomi, termasuk PMI sektor jasa manufaktur. Beberapa data ekonomi penting lainnya adalah inflasi Kanada dan zona euro. Sementara itu, perang di Ukraina akan kembali membuat harga komoditas bergejolak.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*