Minyak Menguat Setelah OPEC Mempertahankan Kuota Produksi

Dolar AS Turun di Jumat, Namun Catatkan Penguatan Dalam Sepekan

Dolar AS Melemah atas mata uang utama lainnya pada hari Senin karena para trader tengah menantikan data pekerjaan AS di akhir minggu untuk petunjuk arah kebijakan The Fed. Dengan tutupnya pasar China ditutup hingga Kamis dan pasar Korea Selatan juga tutup di hari Senin, fokus investor selanjutnya tertuju pada data AS. Non-farm payroll AS akan dirilis hari Jumat, yang diperkirakan tumbuh 488.000 di September, menurut jajak pendapat Reuters. Kondisi ini menjaga The Fed untuk mulai melakukan tapering sebelum  akhir tahun. Sebelumya, The Fed telah mengisyaratkan kemungkinan akan mulai mengurangi pembelian obligasi bulanan segera setelah November, namun saat ini masih tersandung oleh data tenaga kerja dapat menunda rencananya. Para spekulan masih bullish atas dolar AS beberapa pekan terakhir, dengan taruhan net long pada dolar AS naik ke level tertinggi sejak Maret 2020, menurut data CFTC data hari Jumat.

Loonie Menguat Berkat Kenaikan Minyak

Dolar Kanada naik ke level tertinggi empat minggu atas dolar AS pada hari Senin berkat kenaikan harga minyak, mengimbangi penurunan bursa saham Wall Street. Loonie menguat 0,5% menjadi 1,2578, setelah menyentuh level terkuat sejak 7 September di 1,2557. Lonjakan harga minyak lebih dilihat trader daripada penurunan bursa saham AS. Loonie sering kali bergerak bersamaan dengan Wall Street.

Emas Naik ke Level Tertinggi 1 Minggu Berkat Pelemahan Dolar AS

Harga emas naik ke level tertinggi lebih dari satu minggu pada hari Senin karena pelemahan dolar dan sentimen risk oß di pasar ekuitas mengangkat permintaan untuk logam safe-haven. Harga emas spot naik 0,3% pada $1.764,92 per ounce pada. Indeks dolar turun 0,3% terhadap para pesaingnya, membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Minyak Menguat Setelah OPEC Mempertahankan Kuota Produksi

Harga minyak naik ke level tertinggi tiga tahun setelah OPEC+ mengkonfirmasi untuk tetap pada kebijakan output saat ini. Dalam rapatnya kemarin, OPEC+ setuju untuk tetap berpegang pada pakta yang ada untuk menaikkan produksi minyak sebesar 400.000 barel per hari (bph) pada November, meskipun konsumen menyerukan lebih banyak minyak mentah dan lonjakan harga yang mengancam pemulihan ekonomi dari pandemi. Harga minyak Brent naik 2,5%, menjadi US$81,26 per barel dan WTI AS naik 2,29% menjadi US$77,62 per barel. Organisasi Negara Pengekspor Minyak, Rusia dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, telah mendapat tekanan dari konsumen besar, seperti Amerika Serikat dan India, untuk menambah pasokan tambahan setelah harga minyak naik 50% tahun ini. Para menteri OPEC+ “mengkonfirmasi ulang rencana penyesuaian produksi” yang sebelumnya setuju untuk menambah 400.000 bph di November.

Wall Street Anjlok, Tertekan Big Tech & Saham Pertumbuhan

Wall Street melemah tajam pada akhir perdagangan Senin setelah investor melepas Big Tech dan saham pertumbuhan lainnya karena kenaikan imbal hasil US Treasury. Sementara kekhawatiran tentang potensi default utang pemerintah masih membayangi. Indeks Dow Jones turun 0,94% menjadi berakhir pada 34.002,92, S&P 500 melemah 1,30% menjadi 4.300,46, dan Nasdaq jatuh 2,14% menjadi 14.255,49.

Fokus Hari ini: RBA Meeting & PMI Jasa Global

Reserve Bank of Australia (RBA) akan menggelar rapatnya hari ini, yang diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga di 0,10%. Dalam rapatnya bulan lalu, RBA mengumumkan tapering menjadi AUD$4 miliar per minggu dari sebelumnya AUD$5 miliar. Namun, gubernur RBA Phillip Lowe menegaskan tidak alan menaikkan suku bunga hingga 2024. Fokus lainnya adalah PMI sektor jasa global, serta pertemuan ECOFIN.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*