Minyak Naik Karena Lambatnya Produksi Minyak AS

Isu Tapering Kembali Mencuat, Dolar AS Menguat

Dolar AS naik ke level tertinggi dua minggu atas mata uang lainnya hari Senin, didukung oleh ekspektasi tapering the Fed pada akhir tahun, meski ada lonjakan kasus COVID-19. Serangkaian data ekonomi AS akan dirilis minggu ini, dimulai dengan CPI, yang akan memberikan gambaran tentang seberapa panas inflasi menjelang pertemuan Fed minggu depan. Presiden Fed Philadelphia Patrick Harker menjadi pejabat terbaru yang mengatakan dia ingin bank sentral mulai mengurangi tahun ini, mengatakan dalam wawancaranya di Nikkei bahwa dia ingin mengurangi pembelian aset. The Wall Street Journal melaporkan hari Jumat bahwa pejabat Fed akan mencari kesepakatan untuk mulai mengurangi pembelian obligasi pada bulan November. Tapering biasanya mengangkat dolar karena itu berarti langkah menuju kebijakan moneter yang lebih ketat. Indeks dolar naik ke level 92,664, setelah sebelumnya sempat naik ke 92,887, tertinggi sejak 27 Agustus.

Euro Jatuh ke Level Terendah 2 Minggu

Euro termasuk di antara mata uang yang melemah terhadap dolar, merosot ke level $ 1,1770, terendah dalam lebih dari dua minggu, setelah Bank Sentral Eropa (ECB) pekan lalu mengatakan akan mulai memangkas program pembelian obligasi daruratnya. Euro terakhir turun 0,1% pada $ 1,1801. Terhadap yen, dolar naik 0,1% pada 110 yen. Dolar juga naik 0,5% versus franc Swiss menjadi 0,9228.

Emas Menguat Jelang Data-data Ekonomi AS

Harga emas naik pada hari Senin menjelang rilis serangkaian data ekonomi penting AS, termasuk data inflasi yang dapat menentukan arah kebijakan moneter Federal Reserve. Spot emas naik 0,3% menjadi $1.792,05 per ons. Fokus pasar saat ini tertuju pada data CPI bulanan AS, yang akan dirilis pada hari Selasa. Data lainnya, yang juga penting adalah Angka penjualan dan produksi ritel bulan Agustus.

Minyak Naik Karena Lambatnya Produksi Minyak AS

Harga minyak naik ke level tertinggi enam minggu pada hari Senin setelah dua minggu produksi AS tetap lambat untuk kembali berproduksi setelah Badai Ida menghantam Pantai Teluk . Kenaikan harga itu terjadi meskipun OPEC memangkas perkiraan permintaan minyak dunia untuk kuartal terakhir 2021 karena varian Delta coronavirus. Minyak Brent naik 0,8%, menjadi $73,51, sementara WTI AS naik 1,1%, menjadi $70,45. Ada lagi Gangguan dari cuaca buruk, dengan National Hurricane Center AS memproyeksikan Badai Tropis Nicholas akan menerjang sepanjang pantai Texas Selatan pada hari Senin dan mendarat di dekat Corpus Christi nanti malam. Sementara itu, OPEC mengatakan pemulihan permintaan minyak lebih lanjut akan tertunda hingga tahun depan ketika konsumsi akan melebihi tingkat pra-pandemi, analis mencatat OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, masih meningkatkan produksi.

Wall Street Variatif, Investor Lirik Saham Value Stock

Dua indeks Wall Street naik hari Senin setelah investor fokus pada potensi kenaikan pajak perusahaan dan data ekonomi yang akan datang. Investor lebih menyukai value stock daripada growth stock, dengan saham yang akan paling banyak diuntungkan dari kebangkitan ekonomi, yang menikmati persentase keuntungan terbesar. Indeks Dow Jones naik 0,76%, S&P 500 menguat 0,23%, sementara Nasdaq turun 0,07%.

Fokus Hari ini: Pidato Lowe & CPI AS

Data CPI AS akan menjadi sorotan pasar hari ini karena data tersebut bisa menjadi sinyal bagi ekspektasi tapering. Setelah PPI AS naik ke level tertinggi dalam 11 tahun, data CPI AS akan semakin menguatkan padangan Fed tapering, jika dirilis lebih baik dari ekspektasi. CPI AS diperkirakan tumbuh 0,4% di Agustus. Namun sebelum itu, di pasar Asia gubernur RBA Phillip Lowe akan menyampaikan pidatonya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*