Minyak Turun Karena Penguatan Dolar AS, Lonjakan Covid-19 di Inggris

Fed Hawkish, Dolar Naik ke Level Tertinggi 2 Bulan

Dolar kembali menguat pada hari Kamis dan mencapai level tertinggi dua bulan terhadap atas mata uang utama dunia lainnya, sehari setelah pejabat Federal Reserve AS mengejutkan pasar dengan memproyeksikan kenaikan suku bunga dan mengakhiri pembelian obligasi darurat lebih cepat dari yang diharapkan. Pada hari Rabu, pejabat Fed memproyeksikan waktu kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan. The juga mmemulai pembahasan tentang bagaimana mengakhiri pembelian obligasi darurat, dan mengatakan pandemi COVID-19 tidak lagi menjadi kendala utama pada perdagangan AS. Mayoritas dari 11 pejabat Fed memperkirakan setidaknya ada dua kenaikan suku bunga seperempat poin untuk tahun 2023, meski mereka akan tetap mendukung kebijakan untuk saat ini guna mendorong pemulihan pasar tenaga kerja. Indeks dollar menguat 0,53% menjadi 91,892, tertinggi sejak pertengahan April 2021.

Sterling Jatuh ke Bawah 1,400 Karena Penguatan Dolar AS

Sterling turun di bawah $1,40 atas dolar hari Kamis setelah Federal Reserve AS mengejutkan pasar dengan memberi sinyal akan menaikkan suku bunga dan mengakhiri pembelian obligasi darurat lebih cepat dari yang diharapkan. Pound turun 0,3% versus dolar menjadi $ 1,3949 pada hari Kamis, setelah anjlok 0,7% di sesi sebelumnya. Berita tentang penyebaran cepat varian Delta COVID-19 di Inggris turut membebani sentimen.

Emas Anjlok Karena Prospek Kenaikan Suku Bunga The Fed

Emas turun lebih dari 2% pada hari Kamis karena penguatan dolar setelah Federal Reserve AS memberikan nada hawkish pada kebijakan moneternya. Spot emas turun 2% menjadi $1.776.10, setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak 3 Mei di $1.766.29. Mayoritas dari 11 pejabat Fed memperkirakan setidaknya ada dua kenaikan suku bunga seperempat poin untuk tahun 2023.

Minyak Turun Karena Penguatan Dolar AS, Lonjakan Covid-19 di Inggris

Harga minyak mentah turun hampir 2% dari level tertinggi dalam beberapa tahun pada hari Kamis karena penguatan dolar setelah Federal Reserve AS mengisyaratkan akan menaikkan suku bunga di 2023. Harga minyak jenis Brent turun 1,8%, menjadi $73,08 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,5%, menjadi $71,04. Dolar AS menguat ke level tertinggi sejak pertengahan April setelah Fed mengisyaratkan akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan. Dolar AS yang kuat membuat minyak lebih mahal dalam mata uang lain, yang dapat mengurangi permintaan. Kekhawatiran permintaan minyak juga muncul kembali setelah kasus virus corona baru melonjak di Inggris. Inggris melaporkan kenaikan harian terbesar dalam kasus baru COVID-19 sejak 19 Februari pada hari Kamis, menurut angka pemerintah yang menunjukkan 11.007 infeksi baru, naik dari 9.055 sehari sebelumnya.

Wall Street Variatif, Nasdaq Melonjak

Wall Street ditutup variatif pada hari Kamis setelah keyakinan pada kekuatan pemulihan ekonomi mendorong investor ke saham teknologi AS, mengangkat indeks Nasdaq lebih tinggi. Namun Saham bank yang sensitif terhadap suku bunga merosot 4,3% karena imbal hasil US Treasury yang berjangka lebih panjang turun. Indeks Dow Jones jatuh 0,62%, S&P 500 turun 0,04%, sementara Nasdaq melonjak 0,87% .

Fokus Hari ini: BoJ Meeting & Retail Sales Inggris

Di akhir perdagangan minggu ini ada beberapa event atau data yang masih layak disimak. BoJ akan menggelar rapat regularnya, di mana bank sentral Jepang tersebut diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga di -0,1%. Pasar akan fokus pada konferensi pers BoJ. Fokus pasar lainnya adalah data retail sales Inggris, yang diperkirakan tumbuh 29% (YoY) di bulan Mei.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*