Dolar AS Menguat Karena Prospek Rebound Ekonomi AS

Dolar Amerika Serikat (AS) rebound dari level terendah sejak Maret 2018 ke level tertinggi dalam seminggu pada hari Kamis, karena investor melihat potensi rebound ekonomi AS di kuartal mendatang dan profit taking investor atas euro. Dolar tidak bereaksi atas Demonstrasi yang terjadi di Capitol AS, namun fokus pada prospek kepemimpinan presiden terpilih Joe Biden. Kemenangan Biden telah meningkatkan ekspektasi lebih banyak kebijakan stimulus fiskal untuk meningkatkan prospek ekonomi dan mengangkat imbal hasil obligasi jangka panjang, dengan imbal hasil Treasury 10-tahun naik di atas 1% pada hari Rabu untuk pertama kalinya sejak Maret. Pada hari Kamis, imbal hasil mencapai 1,088%. Meski begitu, banyak analis yang memperkirakan bahwa prospek dolar untuk jangka panjang masih bearish dan penguatan akhir-akhir ini hanya sebagai bargain hunting setelah greenback jatuh 7% tahun lalu dan 0,9% di tahun baru.
Loonie Koreksi Setelah Dolar AS Rebound
Loonie melemah atas dolar AS setelah greenback rebound atas mata uang utama dunia lainnya. Loonie melemah 0,1% menjadi 1.1682, lengser dari level tertinggi tiga tahun yang diraih hari Rabu di level 1.2626. Sementara itu, data statistik Kanada menunjukkan defisit perdagangan Kanada menyempit menjadi C$3,3 miliar di bulan November dari revisi C $ 3,7 miliar pada Oktober karena ekspor meningkat dan impor turun.
Emas Melemah Karena Penguatan Dolar AS & Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS
Harga emas turun pada hari Kamis, terbebani oleh penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil Treasury AS, meskipun penurunan dibatasi oleh prospek stimulus fiskal tambahan di bawah kepemimpinan Partai Demokrat AS. Harga jatuh 2,5% setelah mencapai level tertingginya sejak 9 November pada hari Rabu, karena imbal hasil Treasury AS 10-tahun naikl ebih dari 1% untuk pertama kalinya sejak Maret.
Minyak Naik Setelah Pemangkasan Output Saudi & Kenaikan Saham
Harga minyak menguat kemarin karena pasar tetap fokus pada kebijakan Arab Saudi untuk memperdalam pemangkasan produksi minyaknya, serta kenaikan saham, mengabaikan gejolak politik di Amerika Serikat. Penguatan harga minyak minggu ini didukung oleh janji oleh Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia, untuk memangkas produksi dengan tambahan secara sukarela sebesar 1 juta barel per hari (bph) pada bulan Februari dan Maret. Pada hari Rabu, harga minyak sempat turun ketika pendukung Presiden Donald Trump menyerbu Capitol AS setelah dia mendesak mereka untuk memprotes keputusan Kongres atas kekalahannya dalam pemilu. Sementara itu, bursa saham global menguat karena investor yakin Presiden terpilih dari Partai Demokrat AS Joe Biden akan lebih leluasa dalam kebijakan stimulus menyusul kemenangan dua Demokrat dalam pemilihan Senat di Georgia, yang memberi partai memegang kenadali atas Senat dan Kongres AS.

Wall Street Kembali Cetak Rekor Berkat Prospek Stimulus Tambahan
Tiga indeks saham utama Wall Street menguat dan kembali mencetak rekor tertinggi baru pada perdagangan Kamis. Investor bertaruh Kongres yang dikendalikan Demokrat akan memberikan lebih banyak pengeluaran stimulus untuk membantu ekonomi AS mengatasi penurunan tajam yang disebabkan pandemi. Dow Jones naik 0,69%, S&P 500 naik 1,48% dan Nasdaq Composite menguat 2,56%.

Fokus Hari ini : Data Ketenagakerjaan AS
Semua fokus pasar hari ini akan tertuju pada data ketenagakerjaan AS bulan Desember. Data tersebut meliputi average hourly earning, yang diperkirakan tumbuh 0,2%, lebih lambat dari pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 0,3%. Kemudian tingkat pengangguran yang diperkirakan naik menjadi 8,7%. Dan non-farm payroll, yang diperkirakan melambat menjadi 68 ribu.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*