Omicron dan Bursa Saham

Omicron Membuat Pasar Khawatir, Bursa Asia Mampu Naik

Indek bursa saham S&P 500 akhirnya ditutup sedikit lebih rendah setelah mencapai rekor tertinggi pada tengah perdagangan di hari Selasa. Pasar nampak kehilangan tenaga dalam perdagangan tipis setelah empat sesi sebelumnya melakukan reli. Para investor mempertimbangkan dampak pembatasan aktifitas akibat penyebaran varian Omicron yang menganggu aktifitas wisata dan penutupan took atau ritel. Delapan dari 11 indeks sektor utama S&P 500 naik pada hari Selasa. Sayangnya sejumlah saham di sector teknologi dan layanan kesehatan justru memimpin penurunan. Menurut data awal, indek S&P 500 turun 4,53 poin, atau 0,08%, berakhir pada 4.787,14 poin, Nasdaq kehilangan 86,27 poin, atau 0,54%, pada 15.784,99. Dow Jones sendiri mampu berakhir naik 101,66 poin, atau 0,26%, menjadi 36.404,04.

Dalam perdagangan di sesi Asia, sebagian besar bursa saham berakhir naik mengikuti hasil perdagangan di bursa S&P 500 sebelumnya. Para pialang mengevaluasi ketahanan pemulihan global atas rekor lonjakan kasus Omicron. Keputusan pemerintah China terkait peraturan penjualan saham perusahaan China di luar negeri mendorong kenaikan di bursa saham Hong Kong. Keputusan People’s Bank of China yang menyuntikkan 200 miliar yuan ($31,39 miliar) ke dalam sistem perbankan melalui reverse repo tujuh hari turut memberikan sentiment positif bagi Hang Seng. Indeks Hang Seng Hong Kong berakhir naik 0,2 persen pada 23.280,56.

Bursa Saham Jepang mencapai level tertinggi satu bulan, dipimpin oleh kenaikan saham teknologi. Sentimen juga didukung oleh data yang menunjukkan output pabrik Jepang melonjak pada November. Indek Nikkei 225 menguat 392,70 poin, atau 1,4 persen, menjadi 29.069,16, level tertinggi sejak 25 November. Sementara bursa saham Seoul menguat karena investor membeli saham sebelum tanggal ex-dividend. Kospi naik 20,74 poin, atau 0,7 persen, menjadi berakhir pada 3.020,24. Investor mengabaikan data dari Bank of Korea yang menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen di negara itu melemah untuk pertama kalinya dalam empat bulan di bulan Desember.

Risk Appetite Di Bursa Berkurang, Dolar AS Menguat

Dolar naik lebih tinggi dalam volume perdagangan yang tipis, dibantu oleh arus safe-haven karena kekhawatiran pasar atas penyebaran COVID-19 membungkam reli selama beberapa hari ini di pasar ekuitas. Disisi lain, naiknya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve dapat menaikkan suku bunga pada awal Maret turut mendukung kenaikan Greenback. Indeks dolar AS naik 0,177% pada 96,223. Pada perdagangan mata uang lainnya, Yen Jepang naik 0,07% pada 114,8 yen per dolar setelah sebelumnya jatuh ke 114,935, terlemah sejak 26 November. Dolar Australia, yang sering dianggap sebagai proksi likuid dari risk appetite, turun 0,24% pada $0,72225, setelah mencapai level tertinggi pada 22 November silam. Poundsterling turun 0,14% menjadi $1,3422, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi satu bulan di $1,3461. Euro sendiri akhirnya turun 0,24% menjadi $ 1,13.

Harga Emas Terkoreksi Oleh Penguatan Dolar AS

Harga emas mundur dari puncak tertinggi di posisi lebih dari satu bulan karena penguatan dolar AS. Disisi lain, adanya kekhawatiran atas kenaikan inflasi membuat harga emas batangan masih bertahan di atas $ 1.800 per troy ons. Pada perdagangan di pasar spot, harga turun turun 0,2% ke $1,806,97 per troy ons, setelah mencapai posisi tertinggi sejak 22 November di $1,820 di awal perdagangan. Sementara pada perdagangan di bursa berjangka AS, harga ditutup naik 0,1% pada $1,810,90. Penguatan Dolar AS oleh adanya ekspektasi bahwa The FED akan menaikkan suku bunga pada awal Maret ini, guna melawan inflasi. Ini membuat emas kurang menarik bagi investor yang memegang mata uang denominasi selain Dolar AS. Meski demikian, perdagangan nampak masih akan berlaku sideways dengan kecenderungan naik, karena kurangnya kenaikan imbal hasil obligasi AS dan tekanan inflasi menjadi faktor pendukung yang membatasi kerugian emas lebih lanjut.

Harga Minyak Naik Oleh Berkurangnya Pasokan dan Risk Appetite

Harga minyak naik dimana Brent berakhir di $80 per barel meskipun ada penyebaran varian Omicron yang cepat. Dorongan kenai- kan didukung oleh penurunan pasokan global akibat gangguan produksi di Nigeria, Libya dan Ekuador. Sementara itu ada ek- spektasi bahwa persediaan minyak mentah AS pada minggu lalu juga mengalami penurunan. Sentiment positif bagi kenaikan harga minyak juga berasal dari risk appetite yang terjadi di bursa saham AS. Bursa nampaknya siap menutup tahun ini pada atau men- dekati rekor tertingginya. Minyak mentah Brent ditutup naik 34 sen, atau 0,4%, pada $78,94 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup naik 41 sen, atau 0,5%, menjadi $75,98.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*