Poundsterling Menguat Setelah Data Inflasi Inggris

Dolar AS Koreksi Dari Level Tertinggi 16 Bulan, Prospek Bullish

Dolar Amerika Serikat (AS) koreksi dari level tertinggi 16 bulan pada hari Rabu, sementara euro tetap melemah karena investor menyesuaikan peluang pengetatan bank sentral di tengah meningkatnya inflasi, dengan Federal Reserve AS kemungkinan akan menaikkan suku bunga pada awal pertengahan 2022. Indeks dolar turun 0,101% menjadi 95.846, setelah sebelumnya menyentuh 96.266 untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juli 2020. Atas yen, greenback mencapai level tertinggi 4,5 tahun dan menguji level $1,12 terhadap euro, didorong oleh data penjualan ritel AS yang kuat dan komentar hawkish dari pembuat kebijakan Fed, yang kontras dengan komentar dovish dari presiden ECB. Pasar uang sekarang memperkirakan kemungkinan besar kenaikan suku bunga Fed di bulan Juni, diikuti oleh yang kenaikan lain di bulan November. Data CME menunjukkan kemungkinan 50% kenaikan suku bunga 25 bps pada Juli 2022.

Poundsterling Menguat Setelah Data Inflasi Inggris

Pound naik ke level tertinggi satu minggu terhadap dolar AS dan tertinggi 21 bulan terhadap euro setelah data Inggris, yang mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Komite Kebijakan Moneter (MPC) Bank of England pada awal bulan depan. Data pada hari Rabu menunjukkan inflasi pada bulan Oktober mencapai level tertinggi 10 tahun di Inggris, dengan CPI naik 4,2%, lebih tinggi dari perkiraan 3,9%.

Emas Rebound Setelah 2 Hari Koreksi

Harga emas rebound pada hari Rabu karena kekhawatiran inflasi mendorong investor ke logam safe-haven, bahkan ketika data ritel AS yang lebih baik dari perkiraan memperkuat dolar membuat emas mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Spot emas naik 0,9% menjadi $1,865,66 per ons, setelah turun dalam dua hari sebelumnya menyusul reli tujuh sesi.

Minyak Jatuh di Tengah Prospek Kelebihan Pasokan

Harga minyak merosot pada hari Rabu setelah OPEC dan Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan kelebihan pasokan yang akan datang, sementara meningkatnya kasus COVID-19 di Eropa meningkatkan risiko penurunan permintaan pemulihan. Minyak Brent turun 1,7%, menjadi $81,05 per barel dan WTI AS turun 3% menjadi $78.36. IEA dan OPEC dalam beberapa pekan terakhir mengatakan lebih banyak pasokan bisa datang dalam beberapa bulan ke depan. OPEC dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, sebelumnya telah mempertahankan kesepakatan untuk meningkatkan produksi sebesar 400.000 barel per hari (bph) setiap bulan agar tidak membanjiri pasar dengan pasokan. Tekanan atas minyak bertambah setelah Reuters melaporkan bahwa AS meminta konsumen minyak global utama lainnya seperti China dan Jepang untuk mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak (SPR) terkoordinasi untuk menurunkan harga.

Wall Street Koreksi Karena Kekhawatiran Inflasi

Tiga indeks utama Wall Street melemah di akhir perdagangan Rabu karena kekhawatiran inflasi dan rantai pasokan yang berasal dari pendapatan peritel. Investor bertaruh Federal Reserve akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang diperkirakan untuk meredam kenaikan harga. Indeks Dow Jones turun 0,58% ke 35.931,05, S&P 500 turun atau 0,26% ke 4.688,67 dan Nasdaq Composite turun 0,33% ke 15.921,57.

Fokus Hari Ini: Jobless Claims & Philly Fed Manufacturing Index, Pidato Williams

Tidak begitu banyak data ekonomi yang dirilis hari ini, fokus pasar kemungkinan masih akan tertuju pada prospek kenaikan suku bunga The Fed setelah solidnya data-data ekonomi AS terakhir. Hari ini, ada beberapa data AS yang layak disimak untuk memperkuat ekspektasi tersebut, antara lain jobless claims dan Philly Fed manufacturing index. Pasar juga akan fokus pada pidato Pejabat The Fed John Williams.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*