RBA, BoE Meeting & Data Ketenagakerjaan AS Ada dua bank sentral yang akan menggelar rapatnya minggu ini

Dollar menguat atas mata uang utama dunia lainnya Jumat lalu, berkat aksi short covering dan profit taking setelah mencatatkan penurunan terbesar dalam satu dekade. Sepanjang bulan Juli, indeks dollar melemah sebesar 4,1%, penurunan terbesar sejak September 2010, yang disebabkan oleh melonjaknya jumlah kasus virus corona di beberapa negara bagian AS, serta data-data ekonomi terbaru yang menunjukkan ekonomi AS telah kehilangan momentum. Jumat lalu, dollar menguat setelah data yang menunjukkan core PCE, yang menunjukkan inflasi, naik 0,2% di Juli. Data lainnya Chicago PMI juga tumbuh 51,9, diatas perkiraan 44,0. Setelah sempat jatuh ke 92,239, terendah sejak Mei 2018, indeks dollar berhasil menguat 0,6% dan ditutup di level 93,377. Rendahnya tingkat suku bunga membuat dollar tidak menarik bagi investor yang memburu imbal hasil. Dollar semakin tertekan oleh risiko politik setelah pada hari Kamis Presiden AS Donald Trump menginginkan pemilu AS tnggal 30 Nvember mendatang ditunda.

Euro melemah 0,51% pada Jumat lalu, namun masih mencatatkan mingguan dan bulanan, di tengah euforia dana bantuan pandemi 750 miliar euro. Euro sedikit bereaksi terhadap data yang menunjukkan PDB di kawasan zona euro mengalami kontraksi besar, sementara inflasi naik di luar perkiraan.

Harga emas terus bersinar dan mulai mendekati level psikologi $2000 minggu lalu berkat meningkatnya permintaan safe haven. Logam mulia tersebut berhasil mencatakan penguatan bulanan terbesar dalam 8,5 tahun, didorong oleh memburuknya ekonomi AS, yang memukul dollar akibat dampak pandemi Covid-19. pada hari Selasa, harga emas mencatat rekor tertinggi pada level $1980,57 dan naik sekitar 11% sepanjang Juli, kenaikan persentasi bulanan terbesar sejak Januari 2012.

Harga minyak menguat Jumat setelah data yang menunjukkan jumlah rig di AS mengalami penurunan. Menurut data Baker Hughes Co, perusahaan-perusahaan energi AS memangkas produksi minyak dan gas. Jumlah rig beroperasi mencapai level terus turun dalam 11 pekan berturut-turut hingga dua pekan lalu. Sebelumya, harga minyak sempat melambung setelah Energy Information Administration (EIA) melaporkan turunnya cadangan minyak AS sebesar 10,6 juta barel, melawan prediksi penambahan 1,0 juta barel. Namun, kenaikan dibatasi karena meningkatkan jumlah kasus virus corona mendorong kembali dijalankan lockdown dan pembatasan sosial, yang bisa menghentikan pemulihan permintaan minyak dan ekonomi secara umum. Meski Jumat menguat, secara mingguan minyak untuk jenis WTI turun sekitar 1%, namun masih mencatatkan kenaikan bulanan.

Saham-saham Asia masih rentan di awal perdagangan bulan ini karena DPR AS masih berjuang untuk menuntaskan rencana stimulus, serta masih adanya kekhawatiran mengenai kasus virus corona di dunia, yang masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Indeks Nikkei menguat 1,1%, indeks Kospi melemah 0,3%. Sementara indeks MSCI Asia-Pacific di luar Jepang turun 0,2%.

Fokus Minggu ini: RBA, BoE Meeting & Data Ketenagakerjaan AS
Ada dua bank sentral yang akan menggelar rapatnya minggu ini, yaitu RBA dan BoE. Kedua bank sentral tersebut diperkirakan masih akan tetap mempertahankan kebijakannya. Pasar masih akan menyoroti arah kebijakan ke depan. Selain meeting bank sentral, fokus pasar juga akan tertuju pada data ketenagakerjaan AS, termasuk NFP, yang diperkirakan tumbuh 1,510 ribu. Selain itu ada data ISM manufaktur dan jasa AS.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*