Safe haven dollar, yen dan Swiss franc menguat

Safe haven dollar, yen dan Swiss franc menguat kemarin setelah bursa saham di AS anjlok di tengah berkurangnya ekspektasi bawah ekonomi global akan pulih dengan cepat dari krisis Covid-19. Pelaku pasar menghindari mata uang berisiko seperti euro, sterling, dan Dollar Australia. Mata uang safe haven menguat setelah the Fed menyampaikan pandangan yang suram mengenai prospek ekonomi. The Fed menyatakan akan mendukung ekonomi AS dengan menggunakan berbagai alat kebijakan. The Fed juga memperkirakan ekonomi AS akan kontraksi 6,5% tahun ini, dengan tingkat pengangguran berada di angka 9,3%. Safe haven juga mencuat karena kekhawatiran penyebaran gelombang kedua dari virus corona. Jumlah terinfeksi di AS kembali meningkat setelah 5 minggu mengalami penurunan. Indeks dollar menguat 0,4% menjadi 96.556.

Dollar Kanada melemah 1,5% atas dollar AS menjadi 1.3616, penurunan terbessar sejak 15 April. Anjloknya harga minyak akibat kekhawatiran mengenai gelombang kedua virus corona menjadi salah satu faktor yang membuat mata uang Kanada tersebut terkoreksi. Komoditas minyak merupakan andalan eksport Kanada. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Kanada turun 4,6 bps menjadi 0.520%.

Emas melemah kemarin karena penguatan dollar. Namun, kekhawatiran mengenai melonjaknya jumlah kasus yang terinfeksi virus corona, serta kebijakan the Fed yang tetap mempertahankan suku bunga rendah, menahan emas untuk tetap berada dekat level tertinggi satu minggunya. Dollar menguat atas mata uang utama dunia lainnya, didorong oleh safe haven setelah penurunan Wall Street menyusul berita lonjakan kasus terinfkesi virus corona di AS, setelah negara-negara bagian melonggarkan lockdown.

Harga minyak anjlok kemarin karena meningkatnya kekhawatiran mengenai penyebaran kedua dari virus corona dditambah dengan suramnya prospek ekonomi AS yang disampaikan oleh ketua the Fed dalam rapatnya kemarin. Covid-19 menjadi penyebab utama turunnya harag minyak. Sementara banyak negara yang melonggarka aturan lockdown dengan protokol kesehatan, namun hal itu tidak sesuai dengan rencana. AS membutuhkan waktu hampir tiga bulan untuk mencapai angka 1 juga kasus yang dikonfirmasi, namun dengan hanya enam minggu untuk menggandakannya. Pada hari Rabu, jumlah terinfeksi di AS melewati 2 juta, dengan banyak negara bagian melaporkan lonjakan yang signifikan setelah melonggarkan lockdown. Harga minyak juga tertekan karena kekhawatiran oversupply menyusul data EIA yang menunjukkkan cadangan minyak AS naik 5,7 juta barel, melawan perkiraan penurunan 1,8 juta barel. Sementara itu, The Fed dalam rapatnya minggu ini memperkirakan ekonomi AS akan terkontraksi 6,% di tahun ini.

Saham-saham Asia bersiap melanjutkan penurunan setelah bursa Wall Street dan harga minyak anjlok di tengah kekhawatiran penyebaran gelombang kedua dari virus corona. Tiga indeks utama Wall Street anjlok lebih dari 5% kemarin, penurunan terburuk sejak pertengahan Maret. Jumlah kasus terinfeksi di negara bagian AS terus meningkat, meningkatkan kehawatiran bahwa kebijakan pelonggaran lockdown terlalu dini.

Fokus Hari Ini : PDB Inggris dan Sentimen Konsumen AS
DI akhir perdagangan minggu ini, pelaku pasar masih disuguhi beberapa data, baik dari Eropa maupun Amerika Serikat (AS). Data-data tersebut diantaranya adalah PDB Inggris dan Sentimen konsumen AS. PDB Inggris terkontraksi 5,8% di Maret akibat penutupan ekonomi dari Covid-19. Di April, PDB inggris diperkirakan terkontraksi lebih dalam, yaitu 18,0%. Di AS, ada data sentimen konsumen.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*