Safe Haven Tak Lagi Safe

Peran safe haven dollar perlahan memudar dalam beberapa minggu terakhir karena meningkatnya selera berisiko. Dollar tertekan setelah berita uji klinis Gilead Sciences yang relatif berhasil untuk obat Covid-19. Selain itu, safe haven meredup setelah relaksasi lockdown yang diberlakukan di beberapa negara, meningkatkan optimisme pulihnya ekonomi. Di Eropa, Jerman dan Italia mulai membuka aktifitas ekonominya menyusul turunnya jumlah terinfeksi Covid-19, begitu juga dengan AS. Dollar semakin tertekan setelah dalam rapatnya minggu lalu, ketua the Fed Jerome Powell mengulangi janjinya untuk menggunakan “berbagai alat” untuk menopang perekonomian AS di tengah merebaknya pandemi virus corona yang sedang berlangsung. Selama sepekan, indeks dollar melemah sekitar 1,6% dan berakhir di level 98.68.

Meningkatnya sentimen risk-on juga telah mengangkat mata uang terkait mata uang berisiko, salah satunya dolar Australia, yang dipandang sebagai proksi untuk pertumbuhan global. Sementara itu, euro menguat setelah dalam rapat minggu lalu ECB tetap mempertahankan kebijakannya. ECB mempertahankan suku bunga di 0,00%, serta tidak ada penambahan jumlah pembelian asset atau quantitative easing.

Harga emas kembali ke area $1700 setelah presiden Trump mengancam China dengan mengatakan bisa saja mengenakan bea masuk impor akibat cara penanganan virus corona yang dilakukan China sehingga menjadi pandemi global.Trump juga menuduh virus corona berasal dari Institut Virologi Wuhan, sebuah laboratorium di China. Bahkan ia mengatakan memiliki kepercayaan sangat tinggi. Harga emas sempat terkoreksi menyusul munculnya sentimen risk-on setelah uji klinis obat Covid-19 yang dirilis oleh Gilead.

Harga minyak rebound minggu lalu, dengan jenis WTI menguat 17% dan minyak Brent naik 24% sepanjang perdagangan minggu lalu. Beberapa sentimen yang mendukung penguatan minyak antara lain; data EIA yang menunjukkan cadangan minyak AS yang naik lebih kecil dari perkiraan dan turunnya cadangan bensin. Harga minyak juga naik setelah investor menyambut hangat atas temuan obat virus corona yang diproduksi Gilead. Pemangkasan produksi terpadu yang dilakukan oleh para produsen minyak global, yang disebut dengan GLOPEC semakin menambah sentimen. Secara resmi, mereka akan memangkas produksi 9,7 bph dari pasokan. Namun Menteri Perminyakan Arab Saudi Abdul Azis bin Salman dan presiden AS Donald Trump berpendapat bahwa pemangkasan bisa mencapai 20 juta bph, mendekati kerugian permintaan akibat Covid-19 yang sebesar 30 juta bph. Sementara itu, data Bloomberg menunjukkan Saudi telah memproduksi lebih dari 11 juta bph di April ketika mereka melakukan perang harga dengan Rusia.

Di tengah sepinya perdagangan karena pasar Jepang dan China libur, indeks saham berjangka AS turun 1,6% harga minyak anjlok 6 dan indeks saham berjangka Australia ASX 200 menunjukkan pelemahan. Sentimen negatif mencuat karena meningkatnya kembali kekhawatiran berlanjutnya perang dagang antara AS-China setelah ancaman kenaikan tarif oleh presiden Trump.

Fokus Minggu Ini : RBA & BoE Meeting, Data ketenagakerjaan AS
Ada dua bank sentral dunia akan menggelar rapatnya minggu ini, yaitu RBA dan BoE. Kedua bank sentral tersebut diperkirakan tetap mempertahankan kebijakannya, namun pernyataan pejabat bank sentral mengenai arah kebijakan ke depan tetap akan disimak investor. Sementara data-data ekonomi yang akan dirilis antara lain; ISM Non-manufacturing PMI, serta data ketenagakerjaan AS.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*