Sentimen risk-on di tengah kekhawatiran bahwa perang dagang AS-China akan kembali berkobar, Dipicu Tuduhan Penyebab Covid19

Dollar menguat kemarin, didukung oleh permintaan safe haven karena menurunnnya sentimen risk-on di tengah kekhawatiran bahwa perang dagang AS-China akan kembali berkobar, di mana kali ini pemicunya adalah virus corona. Presiden AS Donald Trump dan Sekretaris Negara Mike Pompeo menyalahkan China atas pandemi. Pada hari Minggu, Pompeo mengatakan telah banyak bukti bahwa virus itu muncul dari sebuah laboratorium di kota Wuhan, di Cina tengah. Analis masih bedebat apakah AS akan membalas China dengan menaikkan tarif import atau bahkan membatalkan pembayaran pada treasury AS yang dimiliki China. Dollar juga jatuh setelah data yang menunjukkan factory order AS turun 10,3% di Maret, melebihi angka perkiraan yaitu turun 9,2%. Indeks dollar, menguat sekitar 0,3% menjadi 99,529.

Euro tertekan di tengah penguatan dollar. Selain itu, mata uang tunggal Eropa tersebut jatuh setelah data yang menunjukkan Final Manufacturing PMI di kawasan zona euro terkontraksi menjadi 33,4, di bawah angka perkiraan 33,6. Angka tersebut merupakan terendah sejak dimulainya survei pada pertengahan 1997 dan jauh dari angka 50 yang membagi antara pertumbuhan dan kontraksi.

Peran safe haven emas yang mulai memudar minggu lalu mulai muncul lagi setelah pernyataan presiden AS Donald Trump mengenai ancaman kenaikan tarif baru atas China. Dalam pernyataan hari Minggu, Trump mengatakan bahwa China telah melakukan kesalahan atas penanganan pandemi Covid-19, kemudian mencoba menutupi informasi awal dalam perang melawan krisis. Saat ini pemerintah AS sedang mencari bukti bahwa China mungkin yang menciptakan dan menyebarkan virus.

Harga minyak menguat kemarin karena semakin banyak negara-negara yang mulai melonggarkan aturan lockdown-nya. Italia, Finlandia dan beberapa negara bagian AS mulai melakukan relaksasi lockdown kemarin untuk membuka kembali ekonomi mereka. Selain itu, naiknya harga minyak juga didorong oleh upaya pemangkasan output yang dilakukan oleh negara-negara produsen minyak, atau lebih dikenal dengan OPEC+ yang akan dimulai bulan Mei. Goldman Sach mengatakan bahwa pihaknya optimis bahwa harga minyak bisa naik tahun depan karena rendahnya produksi minyak dan pemulihan parsial dalam permintaan minyak. Sementara itu, Wall Street bank menaikkan perkiraan untuk minyak Brent di tahun 2021 menjadi $55,63 per barel dari sebelumnya $52,50. Sementara untuk minyak jenis menjadi $51,38 per barel dari sebelumnya $48,50. Kemarin, harga minyak jensi WTI naik 3% menjadi 20,39, setelah sempat menyentuh level tiga minguu di $21.41. Untuk Brent juga naik 3% menjadi $27,20.

Penguatan saham-saham sektor teknologi di AS, naiknya harga minyak, serta prospek pemulihan ekonomi kemungkinan akan menjadi sentimen positif bagi saham Asia, menutupi kekhawatiran mengenai perang dagang AS-China. Indeks saham berjangka di Hong Kong dan Australia naik sekitar 0,3% di awal sesi Asia. Di Wall Street tiga indeks utama AS menguat, dengan sektor teknologi di Nasdaq naik 1,2%.

Fokus Hari Ini : RBA Meeting, ISM Non-Manufacturing PMI
RBA akan menggelar rapatnya hari ini, yang diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga di 0,25%. Namun yang akan jadi fokus pasar adalah pernyataan bank sentral mengenai pernyataannya terkait suku bunga, mengingat melambatnya ekonomi akibat Covid-19. Selain itu, ada data ISM Non-Manufacturing PMI AS, data perdagangan Kanada dan data ketenagakerjaan New Zealand

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*