Sterling Jatuh ke Bawah 1,3900 Karena Fed Hawkish, Data Retail Sales Inggris

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Angkat Dollar AS
Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada hari Jumat, setelah the Fed awal pekan lalu mengejutkan pasar dengan memberi sinyal kenaikan suku bunga dan mengakhiri pembelian obligasi darurat lebih cepat dari perkiraan. Indeks dolar, naik 0,37% pada 92,213, tertinggi sejak pertengahan April. Selama sepekan, indeks naik hampir 2%, kenaikan mingguan terbaik dalam sekitar 14 bulan. Kejuatan pasar datang dari perkiraan Fed yang menunjukkan 13 dari 18 orang dewan kebijakan melihat suku bunga naik pada 2023, dibandingkan hanya enam sebelumnya, dengan anggota dewan rata-rata menempatkan dua kenaikan pada 2023. Sentimen risk-on kembali terpukul setelah Presiden Federal Reserve St. Louis James Bullard mengatakan pada hari Jumat bahwa pergeseran bank sentral AS minggu ini menuju pengetatan kebijakan moneter yang lebih cepat, merupakan respons “alami” terhadap pertumbuhan ekonomi dan khususnya inflasi yang lebih cepat dari yang diharapkan saat ekonomi dibuka kembali dari pandemi coronavirus.

Sterling Jatuh ke Bawah 1,3900 Karena Fed Hawkish, Data Retail Sales Inggris
Sterling melanjutkan penurunan atas dolar AS pada hari Jumat, jatuh di bawah $ 1,39, setelah Fed hawkish dan penurunan tak terduga pada penjualan ritel Inggris. Data hari Jumat menunjukkan retail sales Inggris turun 24,6% (YoY) di Mei, dibawah perkiraan 29%, setelah pertumbuhan 42,4% di bulan sebelumnya.

Emas Anjlok Hampir 6% Karena Prospek Kenaikan Suku Bunga The Fed
Emas mengalami penurunan mingguan terburuk dalam lebih dari setahun setelah reli dolar berlanjut menyusul pandangan hawkish Federal Reserve AS. Spot emas turun 0,1% pada hari Jumat. Dalam sepekan, harga turun 5,7%, setelah Kamis Anjlok 2%. Pada Rabu Fed mempertimbangkan apakah akan mengurangi pembelian asetnya pada rapat berikutnya dan memproyeksikan kenaikan suku bunga dua kali di 2023.

Minyak Naik 1,1% Minggu Lalu, Penguatan Dolar & Kekhawatiran Covid-19 Batasi Kenaikan
Harga minyak naik dalam empat minggu berturut-turut setelah OPEC memperkirakan pertumbuhan produksi minyak AS terbatas di tahun ini meskipun ada kenaikan harga. Pejabat di OPEC mendapatkan prospek produksi AS dari pakar industri, menurut sumber OPEC kepada Reuters. Ini akan memberi kelompok produsen lebih banyak kekuatan untuk mengelola pasar sebelum potensi lonjakan produksi shale pada tahun 2022 mendatang. Pada hari Jumat harga minyak naik 0,6% menjadi US$73,5, sementara WTI AS menguat 0,8% menjadi US$71,64 per barel. Selama sepekan, Kedua harga minyak acuan ini naik sekitar 1,1%. minyak Brent sempat naik ke level tertinggi sejak April 2019 dan WTI tertinggi sejak Oktober 2018. Namun, kenaikan dibatasi oleh kekhawatiran yang berkepanjangan tentang pandemi covid-19 dan dolar AS yang lebih kuat. Hal tersebut membuat harga minyak lebih mahal dalam mata uang non dollar.

Wall Street Anjlok Karena Fed Hawkish
Wall Street melemah tajam pada hari Jumat, dengan Dow dan S&P 500 membukukan kinerja mingguan terburuk mereka dalam beberapa bulan, setelah komentar dari pejabat Federal Reserve James Bullard bahwa bank sentral AS mungkin menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Indeks Dow Jones turun 1,58%, S&P 500 melemah 1,31%, dan Nasdaq jatuh 0,92%.

Fokus Minggu ini: BoE Meeting, PMI Global, Pidato Lagarde & Powell
Setelah hasil rapat FOMC yang mengejutkan pasar, minggu ini pelaku pasar akan kembali disibukkan oleh beberapa event, serta data-data ekonomi penting lainnya. Beberapa pejabat bank sentral akan menyampaikan pidatonya seperti Christine Lagarde (ECB) dan Jerome Powell (The Fed). Kemudian ada BoE meeting, serta beberapa data ekonomi, seperti PMI global dan PDB AS.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*