Tiga bank sentral yang akan menggelar rapat, yaitu BoJ, SNB dan BoE

Ada tiga bank sentral yang akan menggelar rapat, yaitu BoJ, SNB dan BoE. Kedua bank sentral tersebut diperkirakan masih tetap mempertahankan kebijakan suku bunga. Namun, yang menarik adalah BoE, yang diperkirakan akan menambah program pembelian asset menjadi 745 miliar poundsterling dari sebelumnya 645 miliar poundsterling. Event yang tak kalah menarik adalah pidato ketua the Fed Jerome Powell.

Dollar menguat minggu lalu berkat meningkatnya permintaan safe haven di tengah prospek ekonomi AS yang suram akibat virus corona. Dalam rapatnya minggu lalu the Fed menyatakan akan mendukung ekonomi AS dengan berbagai macam alat kebijakan. The Fed juga memperkirakan ekonomi AS akan kontraksi 6,5% tahun ini, dengan tingkat pengangguran berada di angka 9,3%. Safe haven juga mencuat karena kekhawatiran penyebaran gelombang kedua dari virus corona. Jumlah terinfeksi di AS kembali meningkat setelah 5 minggu mengalami penurunan. Sementara itu, dollar kurang bereaksi terhadap rilisan data sentimen konsumen yang dirilis Jumat lalu, yang menunjukkan angka yang lebih kuat dari perkiraan. Indeks dollar menguat 0,4% minggu lalu, setelah jatuh dalam tiga minggu berturut-turut.

Poundsterling jatuh ke bawah level 1.2500 minggu lalu atas dollar setelah data yang menunjukkan ekonomi Inggris terkontraksi ke level teredah di 20,4% di bulan April akibat kebijakan lockdown yang dijalankan oleh Inggris. Pelaku pasar melihat angka tersebut merupakan sebagai pertanda awal bagi kemunduran ekonomi Inggris sebelum proses pemulihan yang memakan waktu yang lama dan panjang.

Harga emas melemah Jumat lalu, namun masih mencatatkan gain sebesar 3% . Jumat lalu, harga emas tertekan oleh rebound saham, penguatan dollar dan naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS, Meski begitu, kekhawatiran mengenai second wave virus corona dan dampaknya bagi ekonomi masih mendukung sentimen. Kamis lalu, emas menguat sekitar 1,1% setelah indeks Dow Jones anjlok 7% karena meningkatnya kembali jumlah terinfeksi virus di AS, serta prospek ekonomi AS yang suram dari the Fed.

Setelah menguat dalam enam minggu berturut-turt, harga minyak akhirnya anjlok di minggu lalu. Sentimen pasar memburuk setelah The Fed memperingatkan bahwa kerusakan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 akan berlangsung lama. Selain itu, pasar juga khawatir akan adanya gelombang kedua dari penyebaran virus corona akan mengganggu pemulihan permintaan. Sementara itu, beberapa analis melihat pemulihan harga minyak sangat bergantung pada konsumsi. Barclay Plc memperkirakan pasar telah melihat peningkatan yang cepat pada permintaan dan pasokan turun tajam. Sementara CEO Mercuria Energy Group Ltd mengatakan bahwa permintaan minyak mentah global akan kembali menjadi sekitar 95 juta bph di Desember, kecuali ada gelombang kedua infeksi virus corona. Di minggu lalu, harga minyak juga tertekan setelah adanya arus dana yang keluar dari ETF WisdomTree’s sebesar $128 juta. Selama sepekan, minyak jenis WTI turun sekitar 8,3%, sementara Brent turun 8,4%.

Saham-saham Asia melemah pagi ini berbarengan dengan turunnya harga minyak dunia karena kekhawatiran mengenai adanya gelombang kedua dari penyebaran virus corona di China, mendorong investor lari ke safe haven. Sentimen berisiko kembali terpukul setelah laporan Beijing yang mencatat banyak kasus infeksi baru Covid-19 dalam beberapa hari terakhir. Indeks MSCI di luar Jepang turun 0,25%.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*