Tiga pejabat Bank Sentral Akan Menyampaikan Pidatonya di Minggu ini

Fokus Minggu Ini : Powell, Bailey, Lowe & Data PMI
Ada tiga pejabat bank sentral yang akan menyampaikan pidatonya di minggu ini, mereka adalah ketua the Fed, Jerome Powell, Gubernur BoE Andrew Bailey, dan Gubernur RBA Phillip Lowe. Fokus pasar lainnya adalah data PMI service jasa dan manufacturing di Inggris dan AS. Data lainnya yang layak diceramti adalah Jobless Claims AS dan Philly Fed Manufacturing Index. Sementara itu, the Fed juga akan merilis minutes-nya.

Dollar mencatat kenaikan mingguan karena kekhawatiran penyebaran gelombang dari pandemi Covid-19. Total kasus di Jerman meningkat sebesar 913 menjadi 173,152 pada hari Kamis dan Jumat. Sementara jumlah yang tewas meningkat 101 menjadi 7,824 setelah negara tersebut melakukan relaksasi lockdown. Kasus baru juga tercatat di berbagai negara yang melonggorkan aturan lockdown, memupuskan optimisme mengenai pulihnya ekonomi global. Dengan memudarnya harapan ekonomi global akan pulih dengan cepat, pelaku pasar kembali memburu asset-asset safe haven, seperti dollar AS. Permintaan safe haven meningkat setelah ketegangan baru antara AS-China. Presiden Trump menyatakan bahwa dia enggan untuk berdialog dengan presiden XI Jinping dan mengatakan bahwa pihaknya bisa saja memutus hubungan dengan China.

Poundsterling jatuh 0,6% Jumat lalu menjadi $ 1,2155, terendah sejak 27 Maret, setelah negosiator Brexit Uni Eropa Michel Barnier mengatakan pada hari Jumat bahwa putaran ketiga pembicaraan dengan Inggris “mengecewakan”. Sementara euro juga jatuh setelah data yang menunjukkan ekonomi Jerman terkontraksi 2,2% dikuartal 1-2020. Saat ini ekonomi Jerman sudah masuk ke jurang resesi sejak krisis keuangan 2009.

Harga emas spot menyentuh level tertinggi 7,5 tahun Jumat lalu, sementara emas berjangka AS naik ke level tertinggi satu bulan setelah data AS yang mengecewakan. Data jumat lalu menunjukkan retail sales turun 16,4%, sementara output industri turun 11,4%, menandai kinerja bulanan terburuk bagi kedua data tersebut karena pandemi Covid-19 hampir melumpukan perekonomian AS. . Harga emas semakin melambung menyusul meningkatnya ketegangan baru AS-China.

Meski dibayangi kekhawatiran mengenai ketegangan baru antara AS-China, harga minyak berhasil menguat minggu lalu. Sentimen yang mendorong harga minyak antara lain upaya pemangkasan output yang dilakukan oleh negara-negara produsen minyak. Arab Saudi pada hari Senin mengatakan akan memangkas lebih produksinya hingga 1 juta bph di Juni. Sementara itu, meski Presiden AS Donald Trump berang terhadap China, namun hal ini bisa tertutupi oleh data China, yang menghantarkan WTI naik ke area $30 per barel. Data Jumat lalu menunjukkan output industri China naik 3,9% di April, pulih setelah jatuh 1,1% di Maret. Harga minyak juga naik setelah jumlah rig di AS mengalami penurunan, serta data EIA yang menunjukkan cadangan minyak AS turun untuk pertama kalinya dalam 15 minggu sebesar 745 ribu barel. Pada hari Jumat harga minyak WTI naik 6,8% menjadi $29,43 per barel, sementara Brent naik 4,4% menjadi $32,50. Selama sepekan WTI naik 19%, sementara Brent naik 5%.

Indeks saham berjangka AS menguat di tengah sentimen yang bervariasi setelah pembukaan kembali ekonomi di seluruh dunia diimbangi oleh peringatan bahwa pemulihan ekonomi akan memakan waktu yang lama. Indeks S&P 500 naik 0,6%. Sementara itu, indeks saham berjangka Asia bergerak variatif. Di Asia, indeks future Hong Kong turun, namun saham-saham di Jepang dan Australia menguat.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*