Wall Street Turut Karena Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed

Wall Street

Euro Naik Melemah Setelah ECB Meeting

Euro melemah pada hari Kamis setelah Bank Sentral Eropa (ECB) mengatakan akan menghapus paket stimulusnya pada kuartal ketiga dan membuka wacana untuk kenaikan suku bunga sebelum akhir 2022 untuk menjaga lonjakan inflasi. Berbicara pada konferensi pers, Presiden ECB Christine Lagarde memperingatkan bahwa risiko inflasi telah naik tinggi setelah invasi Rusia ke Ukraina dan bahwa Indeks Harmonisasi Harga Konsumen zona euro sekarang sudah naik 5,1% pada 2022, peningkatan tajam dari 3,2% yang diperkirakan di bulan Desember. Nada hawkish ECB dan pernyataannya bahwa pertumbuhan ekonomi akan terpukul secara substansial dari konflik di Ukraina sementara memicu inflasi pada saat yang sama mengirim imbal hasil obligasi pemerintah zona euro naik tajam. Euro diperdagangkan pada $1,1060, turun 0,16% setelah melonjak 1,6% pada hari Rabu, penguaran harian terbaik dalam hampir enam tahun.

Dolar AS Hanya Naik Tipis Setelah Data CPI

Data AS semalam yang menunjukkan CPI AS naik tajam menjadi 7,9% pada Februari tidak mengejutkan pasar dan membuat indeks dolar cenderung flat, hanya naik hanya 0,10%. Sementara itu, Federal Reserve diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin dalam rapatnya minggu depan. Sementara ekspektasi yang meningkat sebelum perang untuk kenaikan setengah basis poin telah mereda.

Emas Stabil Dekat $2000 Berkat Safe Haven

Harga emas stabil di dekat level $2.000 per ons pada hari Kamis, setelah bergerak liar di sesi-sesi sebelumnya, berkat daya tarik safe-haven didukung oleh kurangnya kemajuan dalam pembicaraan antara Rusia dan Ukraina. Spot emas naik 0,2% menjadi $1.996,30, setelah jatuh sebanyak 3% pada hari Rabu.

Minyak Turun Setelah Pernyataan Putin, UEA

Harga minyak turun sekitar 2% pada hari Kamis setelah sesi yang bergejolak, sehari setelah penurunan harian terbesar dalam dua tahun, setelah Rusia berjanji untuk memenuhi kewajiban kontrak dan beberapa trader mengatakan bahwa kekhawatiran gangguan pasokan sudah berlebihan. Sejak invasi Rusia 24 Februari ke Ukraina, pasar minyak menjadi yang paling bergejolak dalam dua tahun. Pada hari Rabu, minyak mentah Brent membukukan penurunan harian terbesar sejak April 2020. Dua hari sebelumnya, mencapai level tertinggi 14 tahun, naik di atas $139 per barel. Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan dalam sebuah pertemuan bahwa negara itu, produsen energi utama yang memasok sepertiga gas Eropa dan 7% minyak global, akan terus memenuhi kewajiban kontraktualnya pada pasokan energi. Harga minyak juga turun setelah duta besar UEA untuk Washington mengatakan produsen OPEC No. 3 tersebut akan mendorong OPEC untuk mempertimbangkan kenaikan produksi, yang saat ini berada di 400 ribu barel per hari (bph).

Wall Street Turut Karena Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed

Wall Street kembali melemah pada perdagangan Kamis setelah inflasi mencapai level tertinggi dalam empat dekade, memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga utama pada pertemuan kebijakan moneter pekan depan, untuk mencegah ekonomi overheating. Indeks Dow Jones turun 0,34% ke 33.174,07,S&P 500 turun 0,43% ke 4.259,52 dan Nasdaq Composite turun 0,95% ke 13.129,96.

Fokus Hari Ini : Data Ketenagakerjaan Kanada & Sentimen Konsumen AS

Sentimen pasar masih didominasi oleh perkembangan krisis Rusia-Ukraina, yang akan mempengaruhi kemana arus dana mengalir. Hari ini, juga ada serangkaian data yang layak disimak, terutama dari Inggris, seperti data Industrial dan manufacturing production. Kemudian ada data Ketenagakerjaan Kanada, serta sentimen konsumen AS versi Univesitas Michigan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*