WTI Pangkas Penurunan Setelah Bantahan Arab Saudi

Dolar AS Menguat Karena Kekhawatiran Covid-19 di China

Dolar AS naik terhadap sebagian besar mata uang utama pada hari Senin, memulihkan penurunan baru-baru ini, karena pembatasan baru COVID-19 di China memicu kekhawatiran atas prospek ekonomi global dan membuat trader menghindari mata uang berisiko. Ibukota China memperingatkan pada hari Senin bahwa ia menghadapi ujian paling berat dari pandemi COVID-19, menutup bisnis dan sekolah di distrik yang terkena dampak paling parah dan memperketat aturan untuk memasuki kota karena infeksi semakin meningkat di Beijing dan secara nasional. Kasus-kasus baru telah meragukan harapan bahwa pemerintah dapat segera melonggarkan pembatasannya yang ketat. Itu telah mendorong dolar, yang dipandang sebagai safe haven. Dolar menemukan dukungan tambahan setelah Presiden Federal Reserve Bank of San Francisco Mary Daly mengatakan pada hari Senin bahwa bank sentral AS dapat menaikkan tingkat target semalam di atas 5% jika inflasi tidak mereda, meskipun itu bukan hasil yang diharapkannya untuk kebijakan moneter.

Sterling Jatuh Atas Dolar Menjelang Rilis Data Ekonomi Inggris

Pada hari Senin, dolar yang lebih kuat membebani Sterling dengan mata uang Inggris tergelincir 0,5% menjadi $1,18225 terhadap penguatan dolar AS dan karena investor bersiap untuk pelemahan lebih lanjut untuk pound menjelang data keuangan publik yang akan dirilis pada hari Selasa dan angka PMI pada hari Rabu. Investor juga akan mencernati risalah dari pertemuan November Fed, yang akan dirilis pada hari Rabu, yang akan memberi petunjuk tentang prospek suku bunga The Fed.

Emas Jatuh Karena Karena Penguatan Dolar AS

Harga emas merosot ke level terendah dalam lebih dari seminggu pada hari Senin, jatuh lebih dari 1% setelah dolar memperpanjang kenaikan, sementara perhatian pasar beralih ke risalah pertemuan November Federal Reserve AS . Emas spot turun 0,7% menjadi $1.738,40 per ons.

WTI Pangkas Penurunan Setelah Bantahan Arab Saudi

Minyak mentah berjangka WTI AS memangkas kerugian untuk diperdagangkan di atas $79 per barel, setelah jatuh lebih dari 5% ke level terendah sejak Januari, setelah Arab Saudi membantah berita potensi peningkatan produksi minyak. Sebelumnya, Wall Street Journal melaporkan bahwa Arab Saudi dan produsen OPEC lainnya sedang mendiskusikan peningkatan produksi minyak mentah. Laporan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan hingga 500.000 barel per hari sedang dibahas untuk pertemuan OPEC+ pada 4 Desember. Harga minyak telah jatuh selama empat sesi terakhir, di tengah kekhawatiran permintaan dari pembatasan Covid yang lebih ketat di China dan kekhawatiran bahwa bank sentral utama akan terus menaikkan suku bunga. China melaporkan kematian terkait Covid pertamanya dalam hampir enam bulan selama akhir pekan, sementara penguncian lokal diterapkan di beberapa daerah.

Wall Street Melemah Karena Kekhawatiran Covid-19 di China

Wall Street ditutup melemah pada hari Senin, di picu oleh kekhawatiran bahwa China dapat melanjutkan langkah-langkah yang lebih ketat untuk memerangi Covid-19 setelah dikatakan menghadapi ujian pandemi yang paling parah. indeks Dow Jones turun 45,41 poin atau 0,13% menjadi 33.700,28, S&P 500 melemah 15,4 poin atau 0,39% ke 3.949,94 dan Nasdaq Composite anjlok 121,55 poin atau 1,09% ke 11.024,51.

Fokus Hari Ini : Pidato Phillip Lowe, Mester, George & Bullard & Retail Sales Kanada

Serangkaian data ekonomi dan event akan mewarnai pergerakan pasar keuangan hari ini. Di Inggris, akan dirilis Public Sector Net Borrowing dan di Asia ada pidato dari gubernur RBA Phillip Lowe. Memasuki pasar AS, Kanada akan merilis data retail sales, sementara di AS akan dirilis indeks manufaktur Richmond. Beberapa pejabat The Fed juga akan berpidato, seperti Loreta Mester dan Esther George dan James Bullard.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*