WTI Rebound Berkat Pelemahan Dolar AS & Ketatnya Pasokan

Pound Reli Setelah Sunak Akan Menjadi PM Inggris

Pound naik tajam kemarin, didorong oleh kelegaan investor setelah Rishi Sunak memenangkan perlombaan perdana menteri (PM) Inggris berikutnya, meskipun analis mengatakan kenaikan kemungkinan hanya sementara mengingat prospek ekonomi yang suram. Sunak akan menjadi PM ketiga Inggris dalam waktu kurang dari dua bulan dan harus mengatasi berbagai krisis ekonomi dan politik segera setelah ia menjabat. Jeremy Hunt, yang oleh mantan PM Liz Truss ditunjuk sebagai menteri keuangan untuk menggantikan Kwasi Kwarteng, diharapkan akan menjadi Menteri Keuangan di bawah Sunak. Tugas pertamanya kemungkinan akan menyajikan rincian tentang apa yang tersisa dari rencana fiskal pemerintah Trust pada 31 Oktober. Biaya pinjaman Inggris telah melonjak di atas negara-negara yang jauh lebih berhutang, seperti Italia atau Yunani, dan pound telah mencapai rekor terendah setelah Truss meluncurkan program ekonomi yang mengguncang pasar keuangan dan kemudian resign setelah hanya enam minggu menjabat.

Loonie Naik Setelah Minyak Rebound & Meningkatnya Selera Berisiko

Dolar Kanada menguat menuju $1,36, tertinggi dalam hampir tiga minggu, setelah minyak naik dan meningkatnya selera risiko, memberikan optimisme bullish. Investor juga bersiap untuk kenaikan suku bunga lain dari Bank of Canada (BoC), memperkirakan kenaikan 75bps yang akan mendorong biaya pinjaman ke level tertinggi 14-tahun sebesar 4%. Inflasi konsumen tahunan di Kanada menurun untuk bulan ketiga menjadi 6,9% pada bulan September tetapi sedikit di atas ekspektasi karena harga pangan terus meningkat.

Emas Naik di Tengah Tanda-tanda Berkurangnya Sikap Hawkish The Fed

Emas berbalik arah untuk diperdagangkan lebih tinggi setelah dolar jatuh karena pelemahan ekonomi AS memicu ekspektasi Federal Reserve kemungkinan akan memperlambat laju kenaikan suku bunganya. Sebuah survei pada hari Senin menunjukkan aktivitas bisnis AS mengalami kontraksi selama empat bulan berturut- turut, memicu spekulasi bahwa The Fed mungkin mengendalikan sikap kebijakan agresifnya.

WTI Rebound Berkat Pelemahan Dolar AS & Ketatnya Pasokan

Minyak mentah berjangka WTI rebound ke sekitar $86 per barel karena depresiasi dolar dan ketatnya pasokan global. OPEC+ setuju untuk memangkas produksi sebesar 2 juta barel per hari pada November, pembatasan paling signifikan sejak awal pandemi, sementara spekulasi tumbuh bahwa kartel minyak akan terus campur tangan di pasar untuk menopang harga. Menteri energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman memperingatkan bahwa menggunakan persediaan darurat untuk memanipulasi pasar mungkin akan menyakitkan di bulan-bulan mendatang. Larangan Uni Eropa yang membayangi minyak mentah Rusia juga memperburuk kekhawatiran tentang pasokan yang ketat. Namun, minyak masih diliputi oleh kekhawatiran yang berkepanjangan tentang resesi global dan permintaan minyak yang lemah.

Wall Street Menguat Karena Spekulasi Berkurangnya Hawkish Fed

Tiga indeks Wall Street menguat tajam pada akhir perdagangan Selasa setelah data ekonomi yang lemah mengisyaratkan bahwa kebijakan agresif Federal Reserve (The Fed) mulai berpengaruh. Di sisi lain, penurunan imbal hasil obligasi mendorong momentum reli di bursa saham Amerika Serikat (AS). indeks Dow Jones naik 1,07%, S&P 500 menguat 1,63% dan Nasdaq Composite melesat 2,25% .

Fokus Hari Ini : BoC Meeting & Crude Oil Inventories AS

Fokus utama pasar hari ini adalah rapat bank sentral Kanada dan harga minyak. Keduanya akan berkorelasi mengingat Kanada merupakan salah satu eksportir minyak terbesar dunia. Bank of Canada diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunganya sebesar 50 bps menjadi 4% dari 3,25%. Sementara di AS akan dirilis data cadangan minyak versi EIA, yang kemungkinan akan berpengaruh pada pergerakan harga minyak.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*