Yen Menguat Setelah Komentar Intervensi

yen

Dolar AS Naik ke Level Tertinggi 20 Tahun Menjelang FOMC Meeting

Safe-haven dolar AS naik ke level tertinggi baru dua dekade atas mata uang utama lainnya pada hari Senin, didukung oleh kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan kenaikan suku bunga yang agresif oleh Federal Reserve AS. Pasar keuangan global terus bereaksi terhadap data inflasi AS yang lebih panas dari perkiraan pada hari Jumat, yang menyebabkan peningkatan penghindaran risiko secara luas dan memicu pengetatan kebijakan yang lebih agresif. Pada hari Senin, obligasi pemerintah mengalami aksi jual dan pasar saham di seluruh dunia terpukul. Indeks dolar AS, yang melacak kinerjanya terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,6% pada 105,04, setelah mencapai level tertinggi sejak Desember 2002. Beberapa event penting akan dinanti oleh pelaku pasar, termasuk pertemuan kebijakan oleh The Fed, Bank of England dan Swiss National Bank. The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 50 bps pada hari Rabu, dengan beberapa analis, termasuk Barclays dan Jefferies, memperkirakan kenaikan 75 basis poin.

Yen Menguat Setelah Komentar Intervensi

Yen Jepang yang sempat terpuruk ke level terendah sejak 1998 atas dolar AS, menjadi salah satu mata uang utama yang mampu menguat terhadap dolar AS pada hari Senin. Yen mendapat dukungan dari komentar juru bicara pemerintah Jepang bahwa Tokyo khawatir dengan penurunan tajam dan siap untuk “merespons dengan tepat” jika diperlukan. Pada hari Senin, dolar melemah 0,1% menjadi 134,25 yen.

Emas Anjlok Lebih Dari 2% Karena Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga AS

Harga emas spot dan paladium anjlok di awal pekan ini setelah dolar AS menguat di tengah taruhan untuk kenaikan tajam suku bunga oleh Federal Reserve. Sentimen tersebut telah meredupkan daya tarik untuk emas batangan dan logam mulia lainnya. Harga emas spot ditutup anjlok 2,8% ke level US$ 1.819,26. Emas berjangka untuk kontrak pengiriman Agustus 2022 terkoreksi 2,3% ke US$ 1.831,8 per ons.

Minyak Menguat Karena Pasokan Masih Ketat

Harga minyak mentah menguat hari Senin karena pasokan global yang ketat, mengimbangi kekhawatiran bahwa permintaan akan tertekan oleh meningkatnya kasus Covid-19 di Beijing dan kenaikan suku bunga di pasar global. Minyak Brent naik 26 sen ke US$ 122,27 per barel, sementara WTI AS menguat 26 sen menjadi US$ 120,93 per barel. Sentimen bagi minyak datang dengan OPEC dan sekutunya tidak dapat sepenuhnya memenuhi peningkatan produksi yang dijanjikan karena kurangnya kapasitas di banyak produsen, sanksi terhadap Rusia dan kerusuhan di Libya yang telah memangkas produksi. Di sisi lain, kekhawatiran terkait permintaan muncul setelah distrik terpadat di Beijing, Chaoyang, mengumumkan tiga putaran pengujian massal untuk memadamkan wabah Covid-19 yang ganas. Kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga lebih lanjut, yang diperkuat oleh data CPI AS yang naik 8,6% bulan lalu, juga sempat menekan harga minyak.

Wall Street Merosot di Tengah Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga AS

Wall Street anjlok pada perdagangan awal pekan ini, dengan indeks S&P 500 mengkonfirmasikan berada di pasar bearish di tengah meningkatknya kekhawatiran bahwa kenaikan suku bunga agresif yang diharapkan oleh Federal Reserve dapat mendorong ekonomi ke dalam resesi.

Fokus Hari Ini : PPI AS, CPI & ZEW Jerman, Data Ketenagakerjaan Inggris

Hari ini AS akan kembali merilis data inflasi, yang kali kenaikan harga dari sisi produsen atau PPI. Di bulan Mei, PPI AS diperkirakan naik 0,8%, mengindikasikan inflasi masih tinggi, yang masih menjaga The Fed untuk menaikkan suku bunga yang lebih agresif hingga September. Namun sebelum itu, investor akan fokus pada data ketenagakerjaan Inggris, CPI dan survei ZEW Jerman.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*